Tampilkan postingan dengan label Al-qur'an Sebagai Petunjuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-qur'an Sebagai Petunjuk. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2017

Kandungan Surat Al-Ashr

الْعَصْرِ ) 
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ ) 
إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْاوَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ) 

Artinya:  Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3). (QS: Al-Asar: 1-3) 

Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa manusia itu akan rugi jika ia lalai terhadap waktu. ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa bagi manusia yang tidak menghargai waktu untuk hal-hal yang bermanfaat niscaya manusia itu akan rugi. 

Ayat ini juga merupakan wahyu kesembilan yang diterima oleh nabi Muhammad SAW. Sedangkan wahyu yang sebelumnya adalah surat Alam Nasyrah. 

Imam Syafi’i menilai surat ini sebagai salah satu surat yang paling sempurna petunjuknya, beliau menyatakan; “seandainya ummat Islam memikirkan kandungan surat ini niscaya (petunjuk-petunjuknya) mencukupi mereka.” 

Dalam Al-quran jika kita melihat urutan penulisannya, surat ini terletak pada urutan ke-103, tepatnya setelah surat al-takasur dan sebelum surat al-humazah. Lalu apa kaitan antara surat ini dengan surat sebelumnya? Dalam surat at-takasur, Allah SWT memperingatkan manusia yang menjadikan seluruh aktifitasnya hanya berupa perlombaan menumpuk-numpuk harta, serta menghabiskan waktunya hanya untuk maksud tersebut, sehingga mereka lalai akan tujuan utama dari kehidupan ini, yaitu untuk menghambahkan diri kepadanya. Sedangkan pada surat ini (al-Asahr) Allah memperingatkan tentang pentingnya waktu dan bagaimana seharusnya kita isi waktu tersebut supaya lebih bermanfaat dan mendapat ridho Allah tentunya. 

Kemudian jika kita perhatikan surat ini dimulai dengan huruf sumpah(والعصر) yang bermakna “Demi masa”. Para ulama sepakat kata (العصر) pada ayat pertama pada surat ini, dengan makna waktu, namum mereka tetap berbeda pendapat tentang waktu yang dimaksud. 

Pendapat-pendapat itu antara lain: 
1. Waktu atau masa dimana langkah dan gerak tertampung di dalamnya. 
2. Waktu tertentu, yakni waktu dimana sholat ashar dapat dilaksanakan. 
3. Saat sholat ashar dilaksanakan 
4. Waktu atau masa kehadiran Nabi Muhammad SAW dalam pentas kehidupan ini. 

Apa yang Allah maksudkan, sehingga pada awal surat tersebut Allah bersumpah “Demi waktu”. Menurut Abduh: “telah terjadi kebiasaan orang-orang Arab pada masanya turunnya Al-quran untuk berkumpul dan berbincang-bincang menyangkut berbagai hal, dan tidak jarang dalam perbincangan mereka itu terlontar kata-kata yang mempersalahkan waktu atau masa. “ waktu sial” demikian sering kali ucapan yang tersdengar dari mulut mereka bila mereka gagal, atau “waktu keberuntungan” jika mereka berhasil. 

Hal yang demikian dalam ajaran Islam dilarang, kerena dalam ajaran Islam tidak ada yang namanya “waktu sial” atau “waktu keberuntungan” semua waktu itu sama. Yang berpengarauh adalah kebaikan dan keburukan seseorang dalam berusaha, maupun dalam aktivitas yang mereka kerjakan, dan inilah yang berperan baik (beruntung) atau buruknya (sial) kesudahan suatu pekerjaan, kerena waktu itu bersifat tidak memihak kepada kebaikan maupun kepada keburukan. 

Waktu adalah milik Tuhan, di dalamnya Tuhan melaksanakan segala perbuatan-Nya, seperti; menciptakan dunia beserta isinya, memberi rizki makhluk-makhluknya, memuliakan dan menghinakan. Nah, berarti kalau demikian adanya, waktu itu tidak perlu kita kutuk, ataupun kita sebut waktu membawa keberuntungan atau juga kesialan. Janganlah mencerca waktu, kerena Allah adalah pemilik waktu, jika kita menghina waktu berarti sama saja kita telah menghina yang menciptakan waktu tersebut yakni Allah SWT. 

Di atas telah disinggung bahwa orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu secara maksimal maka orang itu akan merugi, kerugian itu mungkin tidak akan kita rasakan pada waktu dini, tetapi pasti akan kita sadarinya ketika pada waktu tua nantinya. Kita sering menemukan atau mendengarkan orang bilang kalau dia sangat menyesal telah menyia-nyiakan waktu mudahnya dengan hal yang tidak bermanfaat, mari kita jadikan itu semua sebagai contoh untuk kita lebih berhati-hati dalam memanfaatkan waktu. Kerena waktu itu tidak akan pernah kembali. 

Pada ayat kedua pada surat al-ashr diatas menyebutkan bahwa “manusia berada dalam kerugian”. Kerugian itu seakan-akan menjadi suatu tempat/wadah, dan manusia berada olah wadah tersebut. Yang dimaksud ayat di atas mengandung arti bahwa manusia berada dalam kerugian total, tidak ada satu sisi dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian; dan kerugian itu, amat besar bagi mereka, maka timbul pertanyaan mengapa demikian? 

Kalau kita kembali kepada makna ayat pertama “Demi masa” serta kaitannya dengan ayat kedua “sesungguhnya manusia berada di dalam kerugian” maka kita akan mengetahui bahwa waktu itu merupakan modal utama manusia. Apabila waktu itu tidak diisi dengan kegiatan yang positif, maka waktu itu akan berlalu begitu saja; ia akan hilang meninggalkan kita. Dan ketika itu, jangankan keuntungan yang diperoleh, modal awal saja sudah hilang. 

Kandungan Surat An-Nur ayat 2

KANDUNGAN SURAH AN NUUR : 2



 
 “Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman”. (QS. An-Nur ayat 2)


Isi kandungan QS An-Nur (24) ayat 2 adalah : 
 a.       Perintah Allah SWT untuk mendera pezina perempuan dan pezina laki-laki masing-masing          seratus kali.
b.  Orang yang beriman dilarang berbelas kasihan kepada keduanya untuk melaksanakan hukum     Allah SWT. 
c.    Pelaksanaan hukuman tersebut disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.

Kandungan Surat Al-Mujadalah ayat 58

Surah al-Mujadalah/58 ayat 11 menjelaskan keutamaan orang-orang beriman dan berilmu pengetahuan. Kalau surahar-Rahman/55 ayat 33 menjelaskan pentingnya ilmu pengetahuan, maka ayat ini menegaskan bahwa orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan diangkat derajatnya oleh Allah Swt.
Mengapa orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan diangkat derajatnya? Sudah tentu, orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan luas akan dihormati oleh orang lain, diberi kepercayaan untuk mengendalikan atau mengelola apa saja yang terjadi dalam kehidupan ini. Ini artinya tingkatan orang yang beriman dan berilmu lebih tinggi di banding orang yang tidak berilmu.

Akan tetapi perlu diingat bahwa orang yang beriman, tetapi tidak berilmu, dia akan lemah. Oleh karena itu, keimanan seseorang yang tidak didasari atas ilmu pengetahuan tidak akan kuat. Begitu juga sebaliknya, orang yang berilmu, tetapi tidak beriman, ia akan tersesat. Karena ilmu yang dimiliki bisa jadi tidak untuk kebaikan sesama.

Kandungan Surat Al-Maidah ayat 3

SI KANDUNGAN Q.S.AL-MAIDAH AYAT 3

al-maidah-ayat-3
Artinya :
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah 1. daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya 2. dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah 3, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini. 4 orang-orang kafir Telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa. 5. Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat tersebut menjelaskan tentang perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah bagi umat Islam, haram artinya jika dilakukan akan mendapat dosa dan jika ditinggalkan akan mendapat pahala. Juga Allah SWT. menerangkan tentang agama Islam yang di ridhai disisi-NYA. Hal mana Allah SWT. telah memberikan nikmat yang banyak kepada umat Nabi Muhammad SAW di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang-orang Kafir telah berputus asa  untuk menghancurkan umat Nabi Muhammad SAW tersebut merupakan karunia dan Pertolongan Allah SWT.
Berdasarkan ayat Al Maidah tersebut dapat diketahui bahwa Allah SWT mengharamkan hal-hal berikut untuk dilakukan :
1.     Memakan  bangkai dan  darah  maksudnya ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145.
2.      Memakann daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tersecik maksudnya ialah: binatang yang  tercekik, yang dipukul, yang  jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.
3.      Berjudi dan mengundi nasib dengan anak panah atau Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, Jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.
4.      Orang kafir yang berputusa asa untuk mengalahkan umat Islam, yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada’, haji terakhir yang dilakukan oleh nabi Muhammad s.a.w.
5.      Jika terpaksa memakan barang-barang yang diharamkan Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat Ini jika terpaksa.

Kandungan Surat Al-Hujurat ayat 10-13

 KANDUNGAN AYAT :
Ayat ini mengisyaratkan dengan jelas bahwa persatuan dan kesatuan, serta hubungan  harmonis antar anggota masyarakat kecil atau besar, akan melahirkan limpahan rahmat bagi mereka semua. Sebaliknya perpecahan dan keretakan hubungan mengundang lahirnya bencana buat mereka, yang pada puncaknya dapat melahirkan pertumpahan darah dan perang saudara.

B.      PERILAKU ORANG YANG MENGAMALKAN QS. AL-HUJURAT : 10-13
Diantaranya adalah :
1.       Selalu menjaga persaudaraan.
2.       Bersikap saling menyayangi dan menghormati terhadap sesame.
3.       Membantu mendamaikan perselisihan yang terjadi diantara saudaranya.
4.       Menjauhkan diri dari sikap-sikap yang dapat merusak pergaulan dan menimbulkan perselisihan.
5.       Tidak merasa dirinya paling baik dan paling benar daripada orang lain.

C.     PENERAPAN SIKAP SESUAI QS. AL-HUJURAT : 10-13
Diantaranya adalah :
1.       Menyayangi, menghormati, dan memperlakukan saudaranya dengan baik.
2.       Bersabar dan tenang ketika terjadi perselisihan dengan sesamanya.
3.       Tidak bersikap gegabah dengan emosi yang meluap-luap dalam menyelesaikan suatu masalah.
4.       Mengklarifikasi suatu masalah/mencari informasi yang lebih jelas sebelum mengambil tindakan, mungkin terdapat kesalahpahaman.
5.       Tidak merendahkan, mengolok-olok atau mengejek orang lain.
6.       Tidak memanggil seseorang dengan sebutan yang buruk dan tidak pantas.


KAJIAN QS. ALI IMRAN : 103

A.      KANDUNGAN AYAT :
Ayat ini memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk bersatu di atas jalan Allah dan melarang kita untuk berpecah belah. Disebutkan dalam ayat ini, bahwa persatuan yang diperintahkan adalah persatuan di atas tali Allah, yaitu agama Allah (Islam), yang berlandaskan kepada Al Quran dan Sunnah. barang siapa yang melepaskan diri atau mengambil jalan lain yang tidak bersumber dari Al Quran dan Hadits RasulullahSAw, maka dia telah keluar dari jalan Allah SWT.

B.      PERILAKU ORANG YANG MENGAMALKAN QS. ALI IMRAN : 103
1.       Ia akan selalu menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.
2.       Ia akan menyikapi segala perbedaan dengan bijaksana.
3.       Menghargai dan menghormati perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin, terutama pada pendapat2 yang bukan masalah pokok.
4.       Saling menyanyangi dan mencintai sesame muslim.
5.       Mementingkan urusan persatuan dan persaudaraan Islam di atas segala-galanya, dengan tidak mementingkan pendapat pribadinya yang dapat menimbulkan perpecahan.

C.     PENERAPAN SIKAP QS. ALI IMRAN : 103.
1.       Tidak menuding satu kelompok yang melakukan kegiatan-kegiatan dan perayaan-perayaan hari besar Islam sebagai bukti dan ungkapan kecintaan mereka kepada Islam, sebagai aliran yang salah dan mengatakan sebagai bid’ah yang sesat, karena tidak dilakukan pada zaman rasulullah. Sebab jelas sangat jauh berbeda dengan pola hidup Rasulullah 14 abad yang lalu, semuanya dapat dikatakan bid’ah, dengan demikian kita semua berarti sesat. Pendapat ini tentu tidak dapat diterima.
2.       Begitu pula sebaliknya, kaum muslimin yang cultural tidak menjatuhkan kaum muslimin yang fanatic dengan celaan-celaan yang dapat menimbulkan percekcokan di atara mereka.
3.       Atau juga dalam perbedaan tata cara ibadah karena perbedaan mazhab atau perbedaan penafsiran hadits Rasulullah, mestinya tidak membuat satu sama lain menghujat dan merasa dirinya yang paling benar.

Kandungan Surat Yunus ayat 101

Surat ini diberi nama surat Yunus karena terdapat kisah Nabi Yunus a.s. dan para pengikutnya yang teguh mempertahankan keimanannya kepada Allah swt. Surat ini terdiri dari 109 ayat dan termasuk golongan surat-surat Makiah kecuali ayat 40, 94, dan 95 yang diturunkan di Madinah pada masa Nabi Muhammad saw.

Alqur'an mengajarkan kepada manusia untuk memerhatikan, mempelajari, mengembangkan, dan meningkatkan iptek tentang alam semesta dan segala isinya melalui petunjuk-petunjuk Alqur'an.

1. Bacaan dan terjemahan Q.S Yunus Ayat 101 

2. Mufrad Q.S Yunus ayat 101 

 3. Tajwid Q.S Yunus Ayat 101 



4. Kandungan Q.S Yunus Ayat 101 

Allah swt memerintahkan umat manusia untuk memerhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta ini seperti jalannya tata surya yang teratur dan tepat waktu, terjadi gerhana matahari dan bulan, pergantian malam dan siang, air hujan turun ke bumi dan sebagainya.

Semua tanda-tanda kebesaran Allah swt. yang ada di alam ini bermanfaat bagi manusia. Oleh karena itu, umat manusia hendaknya mengambil manfaat dari tanda-tanda kekuasaan Allah dan mengambil peringatan yang disampaikan kepada para rasul.

Alqur'an bukanlah buku ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi alqur'an adalah firman Allah swt. yang berisi pedoman hidup bagi manusia. Di dalam alqur'an juga terdapat ayat-ayat yang berkaitan dengan iptek.

Allah swt memerintahkan kepada manusia agar melakukan pengkajian dan penelitian terhadap alam semesta beserta isinya. Sesungguhnya semua ciptaan Allah itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berfikir dan yakin terhadap penciptanya.

5. Hikmah Q.S Yunus Ayat 101

Menambah keimanan kepada Allahswt. dan bertambah yakin bahwa Allah swt Maha Kuasa menciptakan alam semesta ini, dan Dia pula yang mengatur seluruh kehidupan yang ada di bumi.

Memacu umat manusia untuk berlomba dalam menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebagai sumber motivasi dan semangat dalam mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya.

Semakin giat dan bekerja keras untuk memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknoogi.

kandungan surat Al-isra ayat 26-27

Terjemahan dan Isi Kandungan Quran Surat Al-Isra ayat 26 – 27
Berikut ini merupakan isi pokok kandungan dalam Q.S. Al-Isra’ ayat 26 – 27
Allah swt telah berfirman dan memerintahkan kepada kita semua sebagai umat Islam untuk memberikan atau menunaikan hak (berzakat, shadaqah, infaq dll) kepada keluarga-keluarga yang dekat, orang miskin, musafir (orang yang dalam perjalanan).
Dalam ayat ini berisi perintah untuk berbuat baik kepada kaum dhuafa seperti orang orang miskin, orang terlantar, dan juga orang yang dalam perjalanan.
Hak lainnya yang harus ditunaikan adalah “mempererat tali persaudaraan dan hubungan kasih saya satu sama lain, saling bersilaturahmi, bersikap lemah lembut dan sopan santun, memberikan bantuan kepada mereka, dan memberikan sebagaian rizeki yang Allah swt berikan kepada kita semua.
Selanjutnya Allah swt memberikan penegasan bahwa kita dilarang untuk menghambur-hamburkan harta yang kita miliki secara boros atau berlebihan, Islam mengajarkan kita kesederhanaan, sehingga kita harus membelanjakan harta sesuai dengan kebutuhan saja, seperlunya saja dan tidak boleh berlebihan.


Dalam ayat yang ke 27 Allah berfirman bahwa orang-orang yang berperilaku boros adalah saudara-saudaranya setan, tentu kita tidak mau bukan menjadi saudara setan. Karena setan adalah makhluk yang Allah swt ciptakan, tetapi ia ingkar kepada Allah swt atau tidak mau menjalankan yang Allah swt perintahkan. Sehingga setan nantinya akan masuk ke dalam neraka, setan akan selalu menggoda manusia untuk mengajak kita masuk ke dalam neraka, tentu kita sebagai seorang muslim yang beriman tidak mau masuk ke dalam neraka, mengingat sangat pedihnya siksa di dalam neraka.

Tafsir QS. Al-Fatir ayat 29-30

Tafsir QS. Fathir 29-30 (Menghidupkan Quran dan Meng-Quran-kan Hidup)

Edisi kali ini bukan berisi cerita-cerita, tapi berisi pesan khusus yang disampaikan ayah siang tadi. Saat saya sedang membaca al-quran di masjid ba’da zuhur, tiba-tiba ayah menghampiri saya dan menjelaskan isi dan kandungan atau lebih tepatnya tafsir quran surat fathir ayat 29 dan 30. Sebenarnya, sebelum-sebelum ini belum pernah ayah menjelaskan / menafsirkan ayat khusus hanya kepada saya seorang, biasanya adik dan kakak saya juga ikut mendengarkan atau beliau sampaikan di rapat keluarga.

Selain itu, biasanya tulisan-tulisan tentang tafsir quran yang saya buat merupakan hasil dari ceramah ayah di masjid atau di pengajian kantor, tapi khusus untuk kali ini saya akan menulis hasil dari penjelasan ayah yang dijelaskan secara personal, man to man,  tentang tafsir surat fathir ayat 29-30, mumpung masih segar dari ingatan jadi segera saya tulis dan sebarkan.

Semoga penjelasan khusus dari ayah ke saya berikut ini dapat bermanfaat buat saya dan juga khusus saya tulis untuk sahabat sekalian, dengan harapan khusus juga agar kita semua bisa memetik nilai-nilai kebaikan yang dapat kita amalkan pada kehidupan sehari-hari. Penjelasan berikut saya kemas dengan bahasa sederhana, bahasa yang ringan, sebagaimana ayah menjelaskan ke saya karena saya juga bukan orang yang bisa bahasa arab, hehehe. Jadi, jangan menganggap tafsir itu bahasan yang berat ya sehingga kita tidak mau membaca. Kalau enggak percaya, baca aja tulisan ini dulu sampai selesai. :D. Itung-itung belajar tafsir quran dikit-dikit.



Oh iya, tafsir yang digunakan ialah tafsir Ibnu Katsir. Dan terakhir, mohon maaf jika ada kesalahan dalam isi tulisan ini, mohon diingatkan ya.

Tafsir Surat ke 35, QS. Fathir Ayat 29-30

Dalam memahami tafsir, lebih enak kita melihat terjemahan dan tulisan arab nya secara bersamaan  karena penggunaan setiap kata di dalam ayat itu lah yang ditafsirkan. Jadi, bentuk-bentuk kata mempengaruhi penjelasan. Karena keterbatasan, jadi saya tulis dalam bentuk bahasa indonesia, juga untuk mempermudah. Kalau yang bingung membaca tulisan ayat dalam bahasa indonesia, buka langsung quran saja ya. untuk quran utsmani ada di halaman 437. Ayat 29-30 berikut ini:

 “Innalladziina yatluuna kitaaballahi, wa aqomuussholaata wa anfaquu mimmaa rozaqnaahum sirron wa ‘alaniyatan yarjuuna tijaarotan lan tabuur. (29). Liyuwaffiyahum ujuurohum wa yaziidahum min fadhlih, innahuu ghafuurun syakuur. (30).”

Artinya : sesunguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (al-quran), dan melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karuniaNya. Sungguh Allah maha pengampun, maha mensyukuri.

Tafsir surat fathir ayat 29-30 ini menjelaskan tentang orang yang membaca al-quran dan mengamalkan al-quran dalam kehidupan sehari-harinya, mereka akan mendapatkan balasan khusus dari Allah. Bahkan Ibnu Katsir sampai menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ayatul qurro, yaitu ayat yang ditujukan untuk pecinta al-quran, para keluarga al-quran, para ahli quran, para pembaca al-quran, para penghafal quran, dan juga para hafizh quran. Intinya, ayat tentang membaca dan mengamalkan al-quran. Semoga kita termasuk kategori orang yang mencintai quran.

Kita akan bahas dari ayat 29. Innalladziina yatluuna kitaaballahi.

Dalam ayat tersebut yang digunakan adalah ‘yatluna’ yang artinya membaca. Tapi, ‘yatluna’ itu merupakan fi’il mudhori’ (dalam bahasa inggris seperti present tense) atau kata kerja untuk masa kini dan masa yang akan datang. Nah, dalam ilmu tafsir penggunaan fi’il mudhori’ tersebut berarti terus menerus dilakukan sepanjang hidup. Kalau dia menggunakan fi’il madhi (dalam bahasa inggris past tense) atau kata kerja lampau maka kemungkinannya bisa 2: bermakna telah terjadi di masa lampau, atau belum terjadi tapi suatu saat pasti terjadi, underline ya suatu saat pasti terjadi. Di dalam al-quran penggunaan pola tersebut umumnya ditafsirkan seperti itu. Jelas ya masalah fi’il madhi dan mudhori’, jadi belajar bahasa arab ya. Hehehe.

Jadi, maksud dari ayat tersebut adalah: orang-orang yang selalu terus menerus membaca al-quran. Nah, jadi kategori ini adalah orang yang selalu membaca al-quran atau kata selalu juga bisa kita artikan sering ya, tapi sering banget. Nah, walaupun kita tidak terlalu banyak baca al-quran tapi sebisa mungkin sering. Misalkan, setiap habis sholat subuh, zuhur, dan maghrib. Ga perlu banyak-banyak yang penting sering, tapi kalau bisa banyak itu baru top markotop. Kalau kata orang betawie nih, itu kite lakuin saban hari dah, jangan ampe kagak ya neng ama abang....

Kita lanjutin ke ayat berikutnya ya. wa aqomuussholaata wa anfaquu mimmaa rozaqnaahum sirron wa ‘alaniyatan.

Setelah dibaca terus menerus, dibaca dengan sering, kita disuruh mengamalkan al-quran. Dengan apa mengamalkannya? Yaitu dengan ‘aqomussholata’ dan ‘anfaqu mimma rozaqnahum’. Dengan cara mendirikan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki. Nah, dua amalan ini mewakili seluruh amal hidup, yatu mewakili amal yang hablun minallah dan hablun minannas. Jadi, urusan sama Allah kita tuntaskan dengan sholat, dan urusan dengan sesama manusia kita tuntaskan dengan berinfaq, atau memberi. Hebatnya 2 amal tersebut adalah sudah cukup mewakili amalan al-quran tuh, makanya di dalam al-quran sering kita dengar ayat ‘wa aqomussholata wa anfaqu’ atau jenis ayat lain yang intinya menyuruh kita menjalankan dua amal hebat tersebut, amal yang bisa mewakili urusan kita dengan Allah dan urusan dengan manusia.

Nah, kedua kata ‘aqomu’ dan ‘anfaqu’ ini menggunakan fi’il madhi, kata kerja lampau, ini berarti sholat dan infaq itu harus konsisten kita jalanin, sesuatu yang tetap, ga boleh kendur, kembang kempis. Kalau dia menggunakan fi’il mudhori’, bisa kadang kita rajin kadang kita kurang, tapi untuk sholat dan zakat ini tidak bisa kita kadang rajin kadang juga enggak sholat. Enggak bisa begitu. Harus konsisten untuk urusan dua ini. Sholat dan infaq, harus konsisten kita laksanain, jangan kita tinggal. Jangan sampai kadang kita sholat kadang kita enggak, ga boleh ya. harus konsisten dikerjain terus. Kalau baca quran mungkin kadang kita males, boleh lah bolong dikit-dikit. Tapi urusan sholat ini enggak ada ceritanya bolong ya, kudu penuh terus.

Lalu, kata anfaqu diikuti dengan min ma qozaqnahum sirron wa ‘ala niyatan.

Coba diperhatikan kata ‘min ma’, itu artinya ‘sebagian dari’. Jadi, kita diperintahkan infaq cukup sebagian rizki aja, enggak perlu semuanya. Kalau bisa semuanya, itu tentu lebih bagus, ini bisa diliat dari surat al-lail tapi kita bahas lain waktu ya, intinya ‘orang yang paling bertaqwa adalah orang yang menginfaqkan seluruh hartanya’. tapi anjurannya adalah menginfaqkan sebagian, itu bukti betapa Allah itu memberi kita banyak banget kemudahan ya, kita disuruh berbagi aja Cuma sebagian, enggak disuruh ngasih semua barang kita. Istilah sebagian, kalau kita punya uang sejuta ya sebagiannya separo kali ya, 500.000 hehehe. Sebagian itu bukan berarti 1.000 doangan ya, itu mah sebagian kecil, malah kecil banget, Cuma berapa persen. Padahal yang wajib saja 2,5% setiap tahun kita harus keluarkan untuk zakat, itu yang wajib, itu artinya dalam setahun kudu lebih dari 2,5% untuk menutup yang wajib dan agar termasuk kategori ayat ini, orang yang konsisten berinfaq.

Kata ‘sirron’ (sembunyi) mengapa lebih dulu disebutkan daripada ‘‘alaniyatan’ (terang-terangan)? Nah ini artinya bahwa bersedekah atau berinfaq dengan cara sembunyi-sembunyi itu lebih diutamakan, atau lebih afdhol dari pada sedekah dengan terang-terangan. Lebih jelasnya bisa buka ayat tentang riya di surat al-baqoroh ya, disana panjang kali lebar kali tinggi dijelasin tentang berinfaq, hehehe. Jadi, maksud dari kalimat di ayat ini adalah berinfaq dengan sembunyi-sembunyi lebih diutamakan daripada terang-terangan.

Ayat berikutnya. yarjuuna tijaarotan lan tabuur.

Orang-orang yang telah melakukan tilawah / membaca al-quran secara terus menerus sepanjang hidupnya, lalu mereka mengamalkan al-quran yang dibaca itu dengan melaksanakan sholat dan berinfaq secara konsisten, dan infaqnya cukup sebagian dari rezeki mereka serta diutamakan infaq nya dengan diam-diam, mereka itu akan mendapatkan ganjaran dari Allah. Apa itu ganjarannya? Yaitu dijanjikan mendapatkan perdagangan yang tdak akan pernah rugi.

Dalam ayat ini, Allah sengaja memancing kita dengan kata ‘tijarotan’ yang artinya bisnis, usaha, perniagaan, perdagangan. Lalu, penggunaan kata ‘lan’, itu bermakna selamanya tidak akan pernah terjadi. Nah, kebayangkan ganjaran pertama yang Allah kasih? Bisnis dengan Allah yang selamanya tidak akan pernah rugi. Kalau kita bisnis di dunia nih ya, ada enggak orang yang enggak pernah rugi? Enggak ada bung! Kalau ada tuh orang enggak pernah rugi, berarti dia bukan bisnis tapi pegawai yang tiap bulan digaji segitu-gitu aja. Kalau orang bisnis ya ada aja rugi walaupun sedikit. Bahkan, kata Dahlan Iskan, setiap orang punya jatah gagal (rugi), habiskan jatah gagalmu!. Itu berarti setiap kita pasti mengalami rugi, sedangkan ini janji Allah buat kita bahwa Allah akan kasih kita bisnis yang tidak akan pernah rugi selama-lama nya. Mantap kan gan?.

Wah, lumayan capek juga ya, baru satu ayat udah mau tiga halaman. Curhat dikit gpp ya Hehehe. Emang kalau tafsir pembahasannya kudu  perkata, biar gamblang, jelas, dan dipahami bener-bener. Tapi seru juga ya, kita jadi makin paham isi al-quran, makin tambah yakin, nambah keimanan kita... ini baru seayat udah tiga halaman, gimana se Al-Quran ya? ribuan ayat mas bro! Enggak kebayang dah, makanya para ahli tafsir tuh pinter-pinter banget ya. buku kuliah saya aja enggak ada yang berjilid-jilid kaya buku tafsir ibnu katsir, udah gitu enggak ada yang dibaca sampai tuntas satu buku pun, hehehe. Loh, kok jadi curhat lagi. okeh, kita lanjutkan ayat berikutnya yaitu ayat 30.

Nah, akhir dari ayat 29 tadi dan ayat 30 ini berisi tentang ganjaran yang akan Allah berikan bagi yang melaksanakan sesuai dengan ayat 29 tadi, yaitu: Orang-orang yang telah melakukan tilawah / membaca al-quran secara terus menerus sepanjang hidupnya, lalu mereka mengamalkan al-quran yang dibaca itu dengan melaksanakan sholat dan berinfaq secara konsisten, kelak mereka akan dapat ganjaran yang banyak.

Yaitu, Liyuwaffiyahum ujuurohum wa yaziidahum min fadhlih, innahuu ghafuurun syakuur.

Ganjaran pertama tadi sudah disebutkan bahwa mereka akan mendapatkan bisnis dari Allah yang tidak pernah rugi selamanya. Yang berikutnya yaitu ‘Liyuwaffiyahum ujuurohum’, Allah akan sempurnakan pahalanya / ganjarannya. Yuwaffiyahum itu bisa bermakna sempurnakan bisa juga penuh, artinya Allah akan penuhin tuh pahala kita, Allah sempurnain tuh pahala-pahala kita karena kita membaca dan mengamalkan al-quran. Lalu, kata ‘ujurohum’ ini merupakan bentuk jama’ (bentuk plural), itu artinya disempurnakan dengan pahala yang banyak.

Selanjutnya, ‘wa yazidahum min fadhlih’. Tadi sudah Allah sempurnakan pahala nya untuk kita, lalu ditambah lagi dengan, Allah akan menambahkan karuniaNya kepada kita. Kalau tadi yuwaffiyahum itu disempurnakan atau dipenuhi, sudah penuh masih di tambah lagi sama Allah dengan karunia-karuniaNya, karena yang digunakan adalah kata ‘yazidahum’ yaitu menambah. Nah kebayang ga tuh kaya apa? Ibarat ember, udah luber kali ya?. orang udah penuh tuh ember, masih ditambahin lagi. Masya Allah dah ganjaran buat orang yang membaca dan mengamalkan al-quran. Kira-kira masih males enggak ya kita baca quran? Dikasih pahala dan karunia Allah sampai luber? Masa iya masih enggak mau. Dikasih dikit aja udah girang banget ya kita, apalagi dikasih ampe luber, seneng nya enggak ketulungan dah.

Nah, saya mau ibaratin gini nih, biar gampang paham ibaratin nya pakai duit. Misalkan kita kerja, terus karena kita patuh sama perintah atasan kita, dibayarlah gaji kita penuh beserta lemburan-lemburannya berapa jam pun dibayar. Lalu, udah dibayar penuh disempurnakan gaji kita dengan THR lebaran ini, udah penuh tuh kantong, ditambah lagi bonus dari bos kita karena dia puas sama kinerja kita. Nah, kebayang enggak tuh berapa duit yang masuk? Kalau di taro dompet kayaknya duit cash nya enggak cukup tuh. Bisa 2x lipat lebih dari yang seharusnya kita dapatkan. Kira-kira masih males enggak kita baca quran? Ini udah pakai duit umpamainnya, biasanya langsung melek mata kita. Hehehe.

Jadi sudah 3 ganjaran kita dapatkan karena membaca dan mengamalkan al-quran. Pertama diberikan bisnis yang tiada pernah rugi, disempurnakan pahala kita, ditambahkan karunia Allah untuk kita, dan ternyata itu semua belum cukup kata Allah. Karena, saking hebatnya orang yang membaca dan mengamalkan al-quran, maka Allah tambah lagi 2 ganjaran untuk kita yaitu penutup dari ayat 30. ‘innahuu ghafuurun syakuur’. Artinya, Allah maha pengampun dan maha mensyukuri.

Maksud dari Allah maha pengampun dan maha mensyukuri ini adalah, Allah akan ampuni dosa-dosa kita dan Allah akan menjadikan hambanya orang yang bersyukur. Luar biasa kan? Sudah dapat bisnis, dapat pahala dan karunia Allah sampai luber, lalu dosa-dosa kita diampunin lagi, betapa murah hati nya Allah dan itu bukti betapa Allah sayang pada orang yang cinta al-quran. Dan, tahu sendiri kan kalau kita dijadikan Allah orang yang beryukur, itu artinya orang yang bersyukur akan Allah tambahkan nikmatNya. Jadi, udah dapat ampun, lalu ditambahkan nikmat2 Allah untuk kita.

Luar biasa hebat nya orang yang membaca dan mengamalkan al-quran hingga Allah kasih ganjaran yang begitu banyak dan begitu dahsyat nya hanya karena membaca al-quran dan mengamalkannya. Orang hebat ini dapat 5 pemberian dari Allah, diberikan bisnis yang tiada pernah rugi, disempurnakan pahala kita, ditambahkan karunia Allah untuk kita, diampuni dosa-dosa kita, dan dijadikan kita hamba yang bersyukur (sama juga dengan ditambah lagi nikmat dari Allah untuk kita).

Itulah penjelasan tafsir surat fathir ayat 29 dan 30, atau yang disebut oleh Ibnu Katsir sebagai ayatul qurro, ayat nya para pecinta al-quran, cinta bukan sekedar sayang tapi dibaca dan diamalkan.

Sebagai penutup, saya akan menyimpulkan tafsir dari kedua ayat di atas yaitu:

Orang-orang yang membaca al-quran secara terus menerus sepanjang hidupnya, lalu mereka mengamalkan al-quran yang dibaca itu dengan melaksanakan sholat dan berinfaq secara konsisten dan tidak pernah bolong (infaqnya lebih utama secara diam2). Maka Allah akan beri mereka 5 ganjaran: diberikan bisnis yang tiada pernah rugi, disempurnakan pahala kita, ditambahkan karunia Allah untuk kita, diampuni dosa-dosa kita, dan dijadikan kita hamba yang bersyukur (sama juga dengan ditambah lagi nikmat Allah untuk kita).

Pertanyaan sederhana buat kita setelah baca ini, masihkan kita malas membaca dan mengamalkan al-quran?

Semoga Allah berikan kita hidayahNya agar kita termasuk kategori ayatul qurro diatas, orang yang membaca dan mengamalkan al-quran. Dan semoga Allah berikan kita kekuatan untuk bisa konsisten menjalankan amalan ini, serta Allah berikan kita kekuatan dan kemudahan untuk mengajak orang-orang di sekitar kita untuk menjadi kategori ayatul qurro diatas, kategori surat fathir ayat 29-30. Semoga Allah limpahkan kebaikan yang banyak kepada kita, dan Dia jadikan kita hambaNya yang bertaqwa. Aamiin.

Dan, doa khusus untuk kita semua yaitu, semoga Allah Hidupkan al-quran untuk kita, dan Dia quran kan hidup kita, kelak kita termasuk dari Ahlullahi, keluarga Allah, yaitu para keluarga yang cinta Al-Quran. An taj’alal qurananl ‘azhima rabi’a qulibina, wa nuuro shudurina, wa jalaa ahzanina, wa dzahaba humumina wa ghumumina. Aamiin.

Sahabat, ramadhan menyisakan beberapa hari lagi, mari maksimalkan sisa hari ini dengan menjadikan hari-hari nya sebagai hari quran, sebagaimana bulan ramadhan yang dijuluki bulan quran, bulan dimana hari-harinya kita penuhi dengan aktivitas membaca quran dan mengamalkannya.

Kandungan Surat Al insyiroh

kandungannya sebagai berikut:

Ayat 1, Allah menyatakan kepada nabi Muhammad SAW, dengan peryataan bahwa sesungguhnya Kami telah melapangkan  dadamu dan Kami memberikan cahaya sehingga dadamu menjadi lapang dan luas.

Ayat 2-3, Allah telah meringankan beban nabi Muhammad, maksud beban di sini ialah kesusahan-kesusahan yang diderita nabi Muhammad saw
dalam menyampaikan risalah.

Ayat 4, Allah memberikan penghargaan kepada nabi Muhammad atas kesabarannya dalam melaksanakan risalah dakwah.

Ayat 5-6, Allah menyatakan bahwa disetiap kesulitan akan datang kemudahan. Allah menyampaikan hal tersebut untuk memberi motivasi kepada nabi muhammad dan hamba- hamba-Nya bahwa tidak ada kesulitan yang tidak teratasi selama manusia memiliki semangat untuk keluar dari kesulitan dan selalu bertawakkal kepada Allah.

Ayat 7, Allah mengingatkan kepada nabi Muhammad dan umatnya agar tidak cepat puas dengan hasil usahanya dan mengingatkan apabila telah menyelesaikan suatu urusan maka segeralah untuk menyelesaikan urusan yang lain.

Ayat 8, Allah mengingatkan kepada nabi Muhammad dan umatnya agar senantiasa bersandar dan mohon pertolongan hanya kepada Allah. Jika tidak berarti orang tersebut disebut dengan kafir 

Kandungan Surat Al Kahfi

Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan oleh Al-Hakim Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الكَهْفِ فِيْ يَوْمِ الجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الجُمْعَتَيْنِ 

“Siapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, cahaya akan meneraginya di antara dua jum’at.” (HR. Al-Hakim) Surat al-Kahfi terdiri 110 ayat. Di dalamnya termuat 4 kisah, yang dengan merenunginya, mampu mengantar pembaca insyaallah kepada lima pelajaran penting dalam kehidupan. Kelima hal itu adalah syarat bagi siapa pun yang mengimpikan menjadi manusia terbaik pengukir sejarah kebaikan di bumi Allah ini. Kisah pertama, adalah kisah Ashabul Kahfi yang berarti para penghuni gua. Kisah ini dimulai pada ayat ke-9 sampai ke-26. Akan tetapi inti kisah ini terdapat di ayat 13 dan 14 yang artinya, 

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى. وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا.

 “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran.” (QS. Al-Kahfi : 13-14) Mereka adalah para pemuda yang beriman. Yang teramat sadar bahwa masa muda adalah masa berkumpulnya dua kekuatan, kekuatan fikriyah (pemikiran) dan jasadiyah (fisik). Sehingga alangka naif dan bodohnya bila dua potensi ini diabaikan dan dibiarkan berlalu tanpa makna berarti. Lihatlah ashhaabul kahfi, sebelum mereka mengasingkan diri ke gua demi menjaga dan mempertahankan aqidahnya, mereka dengan dua kekuatan itu, digunakan untuk menyuarakan kebenaran dan menegakkan kalimat tauhid sekalipun konsekuensinya harus berhadapan dengan kelaliman penguasa. Ringkasnya, pelajaran penting dari kisah ini adalah Pemuda dan Iman. Karena kepemudaan akan menjadi sia-sia, tak berarti, tanpa adanya iman yang membingkai dua kekuatan yang ada padanya. Kisah kedua, mengenai Shaahibul Jannatain (Pemilik dua kebun). Kisahnya dimulai dari ayat ke- 32 sampai ayat ke-44. Inti sarinya terdapat di ayat ke-35 dan ke-36, 

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا. وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لأجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا.

 “Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri, ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembali kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. (QS. Al-Kahfi : 35-36) Maksudnya, pemilik dua kebun itu jatuh pada kekafiran karena keingkarannya akan nikmat Allah atasnya, dan tidak beriman kepada hari kiamat. Tak heran bila ia merendahkan saudara muslim yang menasehatinya agar bertaubat, kembali kepada Allah penguasa tunggal atas segala sesuatu. Kisah ini mengajarkan kepada kita pentingnya Harta dan Iman. Betapa harta akan menjadi musibah, malapetaka yang menghinakan pemiliknya di dunia dan di akhirat bila iman tidak mewarnai visi dan misi mencari harta. Kisah ketiga, adalah Musa alaihihissalam menuntut ilmu kepada Haidir ‘alaihissalam. Tepatnya adalah perjalanan Nabi Musa a.sdalam mencari hakikat ilmu dan berguru kepada Haidir a.s yang dimulai dari ayat ke- 60 sampai ayat ke- 82. Inti dari kisah ini bahwa ilmu itu milik Allah. Dan Allah memberi ilmu dan memuliakan manusia dengan ilmu bagi siapa yang Ia kehendaki. Kiarena itulah, betapa tidak layaknya setiap yang diberi ilmu merasa sombong, merasa dirinya lebih hebat, lebih pintar, lebih berilmu dari yang lain. Sejatinya, ketundukan dan keimanan kepada Allah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu harus menjadi karakter utama orang yang berilmu. Menjadi seorang yang semakin tawadhu, ridha dan tawakkal atas apa yang menjadi ketentuan Allah atasnya. Karena itulah pelajaran dari rangkaian kisah ini adalah pentingnya Ilmu dan Iman. Betapa ilmu tanpa iman bagaikan memelekkan mata dalam kegelapan tanpa sedikitpun cahaya. Bagai pisau yang berada di tangan orang yang tak berakal, berbahaya dan sangat berbahaya. Rakyat semakin miskin dan menderita, etika dan moral semakin terkikis, keamanan semakin menipis, bila dirunut akarnya adalah ulah sebagian manusia yang pintar namun tidak beriman kepada Allah. Terakhir adalah kisah Dzul Qarnain yang berarti pemilik dua tanduk. Kisahnya dimulai dari ayat ke- 83 sampai ayat ke- 98. Intisari kisahnya adalah di ayat 86 s.d. 88,

 حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا. قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا. وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا.

 “… Kami berfirman: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka dengan mengajak mereka pada iman. Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang dhzalim, Maka Kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia akan dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami”. (QS. Al-Kahfi : 86-88) Pelajaran yang bisa digali dari kisah Dzul Qarnain adalah pentingnya kekuasaan dipegang oleh orang yang bertauhid, yang memiliki kesadaran penuh bahwa kedudukan dan kekuasaan adalah amanah yang kelak akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Bukan ajang euforia, pamer harta, merasa memiliki starata tinggi di mata manusia, apalagi ajang kesombongan. Dengan kesadaran akan hak dan kewajiban penguasa dilandasi nilai-nilai iman dan Islam akan terjadi keadilan dan sebab tersebarnya kebaikan. Karena itulah menjadi pemimpin bukan tercela, bukan musuh yang harus dijauhi oleh ummat Islam. Bahkan ia menjadi salah satu ciri hamba Allah ar-Rahman yaitu menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa dalam upaya menegakkan risalah Islam dan dakwah. Ciri ini tertuang di surat al-Furqan ayat 74. Bahwa ciri hamba Allah ar-Rahman adalah yang selalu berdoa agar Allah menjadikannya pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Jadi, pelajaran pentingnya adalah Kekuasaan dan Iman. Tanpa iman kekuasaan akan melenceng dari sifat asalanya yaitu melindungi dan mengayomi, sebaliknya menjadi binatang buas yang siap menerkam siapa saja yang menghalangi kepentingan kekuasaan itu. Dari rangkaian kisah di surat al-Kahfi, minimal lima kekuatan yang mutlak harus dimiliki oleh Islam dan kaum Muslimin dalam upaya merealisasikan kebenaran, menggetarkan musuh-musuh Islam, dan meraih keberhasilan hidup di dunia dan di akhirat. Lima kekuatan itu adalah : Kekuatan dan keberanian masa Muda yaitu perpaduan antara kekuatan ruhani, akal dan jasmani. Kekuatan perekonomian, modal atau harta yang menjadi sarana terlaksananya akifitas dakwah, dan mudahnya urusan Islam dan kaum muslimin. Misalnya dengan membudayakan infak, sedekah, zakat, wakaf, pajak dlsb. Kekuatan Ilmu untuk mengenali, meluaskan, dan menerapkan kebenaran di setiap lini kehidupan masyarakat. Bagai sinar matahari yang selain mengusir kegelapan juga memberi manfaat bagi makhluk dan alam semesta. Kekuatan kekuasaan berupa penerapan hukum-hukum yang sejalan dengan prinsip Islam, dan ketegasan di dalam menindaki setiap oknum yang bersalah tanpa pandang bulu. Serta perhatian yang besar dalam mensejahterahkan masyarakat baik secara materi ataupun non materi. Kekuatan Iman berupa fitrah Islam atau aqidah atau tauhid yang menjadi kekuatan mutlak harus ada di setiap lini, sisi, potensi, jiwa, langkah, pergerakan, warna, pemikiran, tindakan dan ucapan baik yang nampak atau tersembunyi, materi atau non materi, besar atau kecil. Semoga Allah menjadikan sisa umur yang membangun lamanya hari kehidupan kita di dunia ini bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Memberi peluang, kemudahan dan aplikasi dalam mengukir sejarah peradaban manusia dengan tinta emas kebaikan dan kemulian, hingga keberkahan umur kita dirasakan oleh mereka yang terlahir sebagai generasi selanjutnya. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar.

Implementasi Trilogi Nusa Putra

 Assalamu'alaikum Wr. Wb. Haiii... perkenalkan nama saya Raida Namira Aulia, salah satu mahasiswi program studi Pendidikan Guru Sekolah ...