Tampilkan postingan dengan label Islam Agama Cinta Damai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Agama Cinta Damai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2017

Berdamai dengan diri sendiri _Mario teguh

Berdamai Dengan Diri Sendiri – Mario Teguh

BARU SAJA MEMBACA POST WALL MARIO TEGUH TENTANG BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI. BERMAAFAN DENGAN DIRI SENDIRI, DAN BERLAKU LEMBUT DENGAN DIRI SENDIRI. SESUATU YANG BELUM PERNAH SAYA PIKIRKAN SEBELUMNYA. KALAU DIPIKIR-PIKIR, BETUL JUGA YA. AHH…SUSAH DIJELASIN… SILAHKAN BACA SENDIRI NOTE DARI PAK MARIO INI.
ENGKAU YANG MERASA ENTAH MENGAPA, KEHILANGAN TENAGA DAN KEINGINAN UNTUK MELAKUKAN SESUATU YANG PENTING BAGI HIDUPMU, DENGARLAH INI …
Kehidupan ini berlanjut.
Apakah engkau mengeluhkannya, memprotesnya, atau mensyukurinya, … kehidupan ini berlanjut.
Tapi engkau tak sendiri.
Ketahuilah bahwa di balik cadar keanggunan, atau tameng kegagahan, dan di balik semua keceriaan dan tawa lantang yang menggema dalam pergaulan yang popular itu, … sesungguhnya banyak tergelatak hati yang galau, yang tak bertenaga, yang letih dengan kepura-puraan, yang ingin berteriak seliar-liarnya, yang ingin berlari kencang membuta menghilangkan diri, dan yang ingin menangis sejadi-jadinya di tengah seramai-ramainya kerumunan.
Sesungguhnya engkau tak sendiri, maka kasihilah sesamamu sebagaimana engkau seharusnya mengasihi dirimu sendiri.
Sesungguhnya tidak mudah menjadi dirimu.
Orang di sekitarmu menuntutmu untuk memenuhi standar mereka tentang apa yang disebut berhasil, mecemoohmu jika engkau tak tampil seperti telah berhasil, menertawakan impian-impianmu, meragukan kesungguhanmu, dan menuntutmu menggembirakan mereka dengan menelantarkan kebutuhanmu untuk hidup damai dengan dirimu.
Kasihilah dirimu.
Janganlah memarahinya karena kesalahan yang tak disengajanya, atau yang dilakukannya karena ketidak-tahuannya.
Bersabarlah dengan kelambanannya dalam memperbaiki dirinya.
Bukankah engkau yang selalu mengatakan bahwa manusia itu tak sempurna? Lalu, mengapakah engkau memarahinya karena ketidak-sempurnaannya?
Dirimu itu paling membutuhkan kelembutanmu.
Apakah engkau tak merasa kasihan melihat upayanya untuk menggembirakan orang-orang tamak yang sombong, yang lebih kaya darimu, yang diharapkannya akan melebihkan pemberian kepadamu jika dia melebihkan tawa dan pujian bagi mereka?
Dirimu itu sesungguhnya telah letih melayanimu, yang banyak bermimpi tapi malas bertindak, yang banyak memprotes tapi mudah tersinggung, dan yang minder tapi sombong.
Turunkanlah suaramu sebentar, dan berbicaralah dalam nada suara yang lebih penyayang kepada dirimu.
Turunkanlah hidung dan wajahmu yang banyak mendongak untuk mengesankan rasa percaya diri itu, dan ramahkanlah wajahmu saat engkau melihatnya di cermin.
Berlakulah lebih jujur kepada dirimu.
Inginkanlah yang besar, tapi ikhlaslah melakukan yang sederhana dan yang dalam kemampuanmu untuk melakukan.
Bersegeralah melakukan yang kau rencanakan dan setialah mengerjakannya sampai selesai, agar dirimu mempercayai janji-janjimu kepadanya.
Duduklah lebih dekat dengan dirimu sendiri. Bersahabatlah dengannya.
Janganlah engkau membuatnya merasa tak kau butuhkan,karena kau sesali semua kekurangannya, sambil melupakan kelebihan dan kebaikannya.
Minta-maaflah kepada dirimu.
Dari semua yang paling membutuhkan permintaan maaf atas kesemena-menaan cara hidupmu, adalah dirimu sendiri.
Mudah-mudahan, dalam persahabatan yang ramah, penuh hormat, dan penuh kasih dengan dirimu sendiri itu, Tuhan mengutuhkanmu dengan dirimu sendiri dalam satu kesadaran jiwa yang semakin mulia dengan semakin bertambahnya usiamu.
Karena sesungguhnya, engkau dan jiwamu itu satu.
Tapi kesejatian jiwamu yang mulia itu, terbelah menjadi seperti dua bagian yang saling tak mendamaikan.
Karena, kesejatian jiwamu itu tak mungkin menjadi tetap utuh, dengan kau ijinkannya nafsu yang buruk sebagai pengganti dari tenaga jiwamu yang suci.
Maka, dekatkanlah dirimu kepada Tuhan, sedekat-dekatnya, dalam kemanjaan yang syahdu, dan dalam keharuan tangis jiwamu yang jujur.
Karena, di dalam kedekatan itulah engkau disucikan.
Karena, Tuhanmu tak mengijinkan apa pun yang kotor mendekat kepadaNya.
Jiwamu yang dekat dan manja kepadaNya, akan dibersihkan.
Dan di dalam kebersihan jiwamu itulah kedamaianmu tumbuh.
Sekarang … tundukkanlah diri dan jiwamu, dalam semesra-mesranya sujud di hadapan Tuhanmu yang merindukan tangis manjamu.
Wahai jiwa yang tenang … indahkanlah senyum di wajahmu itu.
Tuhanmu sedang memandangimu dengan penuh kasih.
Mario Teguh – Dengan hati yang penuh kasih kepadamu, … sahabatku

Berdamai dengan hati dan pikiran

Berdamai dengan hati dan pikiran

berdamai dengan hati dan pikiranBerdamai dengan hati dan pikirankedengarannya sangat nyaman dan tenang, jika memang dapat menghasilkan sebuah hasil yang baik saat melakukan berdamai dengan hati dan pikiran kenapa masih banyak orang yang merasa gelisah, bingung , panik ataupun kurang tenang dalam menjalani hidup di alam semesta.

Kemungkinan besar jika manusia tidak dapat menikmati hidup yang sebenarnya, dikarenakan belum dapat melaksanakan sesatu yang mengarah ke dalam spiritualnya, dan faktor spiritualbukan hanya dilihat dari sisi agamanya, tetapi juga bersinambungan dengan spikologis, kejiwaan, kepercayaan, fisik dan kebatinan, hal ini yang memungkin untuk dapat melaksanakan proses berdamai dengan hati dan pikiran.
Dan salah satu fakor adalah kurang dapat menerima apa yang menjadi kekurangan saat ini, mungkin keadaan fisik atau keduniawian, sehingga menjadi tekanan dalam hati dan pikiran setiap harinya, dan menjadikan apa yang ada disekitarnya dirasa kurang bersahabat, maka langkah yang paling utama adalah menerima apapun bentuk keadaan dan kekurangan dalam diri kita, juga apapun bentuk permasalahan yang terjadi saat ini.
Jika pikiran dan hati kita terbiasa dengan menerima dan ikhlas, maka apapun bentuk dan siapapun yang berada disekitar kita, akan mendukung hati dan pikiran kita untuk selalu berdamai dan terasa nyaman pada diri kita.
Langkah untuk berdamai dengan pikiran salah satunya adalah membiasakan dengan hal yang membuat jiwa sehat, agar dapat mersakan bagimana rasa yang nyaman dan tenang saat berdamai dengan hati dan pikiran
10 kebiasaan membuat jiwa sakit
  1. Memilih yang enak walaupun salah
  2. Menempatkan keinginan dan tuntunan diluar batas jangkauan
  3. Tidak mau peduli dan berbagi
  4. Tidak suka berolah pikir
  5. Kebiasaan one man show
  6. Memandulkan kreativitas spiritual
  7. Kebiasaan membalas aksi negative dengan reaksi negative berlebihan
  8. Kasih sayang hanya bertuju pada diri sendiri
  9. Mengumpulkan sampah pergaulan dalam hati
  10. Mengumbar nafsu amarah
10 langkah menuju jiwa sehatHUBUNGI ARAFAT
  1. Memilih yang benar walaupun sulit
  2. Menikmati dengan puas dan mensukuri apa yang dimiliki ( dalam jangkauan)
  3. Membiasakan diri untuk berbagi dan peduli, mengubah paradikma dari penerima menjadi pemberi.
  4. Membiasakan untuk berpikir dan melakukan renungan
  5. Membiasakan kerja sama dan bersinergi tolong menolong saling memuaskan
  6. Belajar melihat hikmah daibalik musibah
  7. Membiasakan untuk member reaksi positif walaupun terhadap aksi negative
  8. Menyebar kasih saying seluas luasnya
  9. Membersihkan diri dari sampah pergaulan
  10. Tidak marah kecuali untuk mendidik, marah sebagai tugas, bukan sebagai pelampiasan emosi.

Hadist tentang perdamaian

DALIL HADITS TENTANG PERDAMAIAN

No. Hadist: 2493
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ أُنَاسًا مِنْ بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ كَانَ بَيْنَهُمْ شَيْءٌ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ يُصْلِحُ بَيْنَهُمْ فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ وَلَمْ يَأْتِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ بِلَالٌ فَأَذَّنَ بِلَالٌ بِالصَّلَاةِ وَلَمْ يَأْتِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُبِسَ وَقَدْ حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَهَلْ لَكَ أَنْ تَؤُمَّ النَّاسَ فَقَالَ نَعَمْ إِنْ شِئْتَ فَأَقَامَ الصَّلَاةَ فَتَقَدَّمَ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِي فِي الصُّفُوفِ حَتَّى قَامَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ فَأَخَذَ النَّاسُ بِالتَّصْفِيحِ حَتَّى أَكْثَرُوا وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لَا يَكَادُ يَلْتَفِتُ فِي الصَّلَاةِ فَالْتَفَتَ فَإِذَا هُوَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَاءَهُ فَأَشَارَ إِلَيْهِ بِيَدِهِ فَأَمَرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ كَمَا هُوَ فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ رَجَعَ الْقَهْقَرَى وَرَاءَهُ حَتَّى دَخَلَ فِي الصَّفِّ وَتَقَدَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِذَا نَابَكُمْ شَيْءٌ فِي صَلَاتِكُمْ أَخَذْتُمْ بِالتَّصْفِيحِ إِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَقُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا الْتَفَتَ يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ حِينَ أَشَرْتُ إِلَيْكَ لَمْ تُصَلِّ بِالنَّاسِ فَقَالَ مَا كَانَ يَنْبَغِي لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abi Maryam telah menceritakan kepada kami Abu Ghossan berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad radliallahu 'anhu;Bahwa orang-orang di kalangan suku Bani 'Amru bin 'Auf bin Al Harits telah terjadi maslah diantara mereka, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersama sebagian sahabat Beliau pergi mendatangi mereka untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Kemudian Bilal mengumandangkan adzan untuk shalat namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam belum juga datang. Akhirnya Bilal menemui Abu Bakar radliallahu 'anhu seraya berkata: "Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah tertahan, sedangkan waktu shalat sudah masuk, apakah engkau bersedia memimpin orang-orang untuk shalat berjama'ah?. Dia (Abu Bakar) menjawab: "Ya bersedia, jika kamu menghendaki". Maka Bilal membacakan iqamat lalu Abu Bakar maju untuk memimpin shalat. Tak lama kemudian datang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berjalan di tengah-tengan shaf hingga berdiri di shaf pertama. Maka orang-orang memberi isyarat dengan bertepuk tangan hingga semakin ramai sedangkan Abu Bakar tidak bereaksi dalam shalatnya. (Ketika orang-orang yang memberi tepukan semakin banyak), Abu Bakar baru berbalik dan ternyata ada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di belakangnya, lalu Beliau memberi isyarat dengan tangan Beliau untuk memerintahkan Abu Bakar meneruskan shalat seperti semula. Maka Abu Bakar mengangkat kedua tangannya lalu memuji Allah dan mensucikan-Nya kemudian dia mundur hingga masuk di barisan, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maju untuk memimpin shalat berjama'ah. Setelah selesai Beliau berbalik menghadap jama'ah lalu bersabda: "Wahai sekalian manusia, jika kalian mendapatkan sesuatu dalam shalat, mengapa kalian melakukannya dengan bertepuk tangan?. Sesungguhnya bertepuk tangan itu adalah isyarat yang layak dilakukan kaum wanita. Maka siapa yang mendapatkan sesuatu yang keliru dalam shalat hendaklah mengucapkan subhaanallah, karena tidaklah seseorang mendengar ucapan subhaanallah kecuali dia harus memperhatikannya. Dan kamu wahai Abu Bakar, apa yang menghalangimu ketika aku sudah memberi isyarat kepadamu agar meneruskannya, mengapa kamu tidak melanjutkan shalat bersama orang banyak?. Maka Abu Bakar menjawab: "Tidak patut bagi putra Abu Quhafah memimpin shalat di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam".
No. Hadist: 2494

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي أَنَّ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَتَيْتَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَكِبَ حِمَارًا فَانْطَلَقَ الْمُسْلِمُونَ يَمْشُونَ مَعَهُ وَهِيَ أَرْضٌ سَبِخَةٌ فَلَمَّا أَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِلَيْكَ عَنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ آذَانِي نَتْنُ حِمَارِكَ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ مِنْهُمْ وَاللَّهِ لَحِمَارُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْيَبُ رِيحًا مِنْكَ فَغَضِبَ لِعَبْدِ اللَّهِ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَشَتَمَهُ فَغَضِبَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَصْحَابُهُ فَكَانَ بَيْنَهُمَا ضَرْبٌ بِالْجَرِيدِ وَالْأَيْدِي وَالنِّعَالِ فَبَلَغَنَا أَنَّهَا أُنْزِلَتْ وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا {
“Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Mu'tamir berkata, aku mendengar bapakku bahwa Anas radliallahu 'anhu berkata: "Dikatakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam "Sebaiknya Baginda menemui 'Abdullah bin Ubay." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menemuinya dengan menunggang keledai sedangkan Kaum Muslimin berangkat bersama Beliau dengan berjalan kaki melintasi tanah yang tandus. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menemuinya, ia berkata: "Menjauhlah dariku, demi Allah, bau keledaimu menggangguku". Maka berkatalah seseorang dari kaum Anshar diantara mereka: "Demi Allah, sungguh keledai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih baik daripada kamu". Maka seseorang dari kaumnya marah demi membela 'Abdullah bin Ubay dan ia mencelanya sehingga marahlah setiap orang dari masing-masing kelompok. Saat itu kedua kelompok saling memukul dengan pelepah kurma, tangan, dan sandal. Kemudian sampai kepada kami bahwa telah turun ayat QS. Al Hujurat: 10 yang artinya ("jika dua kelompok dari kaum muslimin berperang maka damaikanlah keduanya").
No. Hadist: 2495

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ حُمَيْدَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَهُ أَنَّ أُمَّهُ أُمَّ كُلْثُومٍ بِنْتَ عُقْبَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِي خَيْرًا أَوْ يَقُولُ خَيْرًا

“Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'aziz bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad dari Shalih dari Ibnu Syihab bahwa Humaid bin 'Abdurrahman mengabarkan kepadanya bahwa ibunya, Ummu Kultsum binti 'Uqbah mengabarkan kepadanya bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukanlah disebut pendusta orang yang menyelesaikan perselisihan diantara manusia lalu dia menyampaikan hal hal yang baik (dari satu pihak yang bertikai) atau dia berkata, hal hal yang baik"

Dalil tentang agama islam Cinta Damai

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah.Qs.4:86-87

B. Kaitan Dengan Ayat Sebelumnya
1. Ayat sebelumnya memberikan bimbingan bagi orang mu`min agar selalu memberikan syafaat kepada sesamanya. Syafaat utamanya melindungi hak sesame muslim dari hal-hal yang menimbulkan madlarat. Ayat selanjutnya berkaitan dengan perinsip kehidupan sesama muslim yang berlandaskan perdamaian. Prinsip perdamian tersebut diawali dengan saling menyampaikan salam penghormatan  dalam segala kesempatan.
2. Kesalihan social berdasar ayat sebelumnya mesti dimanifestasikan dalam bentuk saling memberi pertolongan, memberikan bantuan dan bimbingan. Ayat selanjutnya memberikan bimbingan agar dalam menjaga kesalihan social itu dimanfestasikan pula dalam bentuk salam perdamaian yang berlandaskan tauhid.

C. Tafsir Kalimat
1. وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).
Menurut al-Nasafi حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ adalah menyampaikan salam, karena penghormatan dalam al-Islam adalah mendo’akan keselamatan dan kesejahteraan duniawi dan ukhrawi. Orang Arab biasanya menyamapikan salam ketika berjumpa dengan ucapan  حياك الله  yang berarti  أطال الله حياتك semoga Allah memanjangkan usis hidupmu. Setelah syari’ah al-Islam diberlakukan maka ucapan tersebut diganti dengan السّلام عليكم semoga keselamatan dan kesejahteraan melimpah padamu.[1] Ibn al-Jauzi mengungkapkan bahwa perkataan حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ mengandung dua ma’na (1) penyampaian ucapan salam penghormatan yaitu السّلام عليكم sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Abbas dan mayoritas ulama. (2) do’a sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Jarir dan al-Mawardi. Adapun kalimat بِأَحْسَنَ مِنْهَا mengandung arti tambahan dalam kalimat yang berisi do’a, sedangkan أَوْ رُدُّوهَا dengan do’a atau kalimat yang setimpal. Al-Hasan dan al-Dlahak berpendapat bila sesame muslim itu menyampaikan salam dengan السّلام عليكم maka jawaban yang baik adalah وعليكم السلام ورحمة الله dan bila ucapannya السلام عليكم ورحمة الله maka jawabannya adalah وعليكم السلام ، ورحمة الله وبركاته dan tidak ada tambahan lagi melebihi dari ucapan tersebut. Tegasnya bila ucapan salam itu berbunyi السلام عليكم، ورحمة الله وبركاته maka jawabannya adalah وعليكم السلام ، ورحمة الله وبركاته karena tidak ada salam maupun jawabannya yang lebih panjang dari itu. Sedangkan Qatadah berpendapat bahwa jawaban yang setimpal itu bila yang menyampaikan salamnya non muslim. Jika yang menyampaikan salamnya seorang muslim maka seyogyanya dijawab dengan yang lebih baik.[2] Salam yang selalu disampaikan muslim kepada sesamanya bukan hanya berfungsi ritual tapi benar-benar merupakan prinsip hidup sesamanya, yang senantiasa menjaga perdamaian. Arti al-Islam itu sendiri tidak jauh berbeda dengan ucapan salam. Al-Islam adalah agama perdamaian dan cinta damai. Muslim cinta damai dan benci peperangan, sebagaimana tersirat pada firman-Nya:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Qs.2:216
Isyarat ayat ini antara lain (1) perang adalah kewajiban muslim dalam menegakkan al-Islam mengalahkan agama lainnya, (2) muslim itu tidak senang perang, (3) muslim sangat mencintai perdamaian, tapi tidak selama damai itu menguntungkan, (4) apa yang dibenci belum tentu buruk, (5) apa yang dicintai belum tentu baik, (6) mana yang patut dibenci dan mana pula yang patut dicintai hendaknya berukuran pada atauran Allah SWT, (7) apa yang diperitah Allah atau dilarang-Nya belum tentu diketahui hakikatnya oleh manusia. Dengan demikian jelas bahwa mu`min itu tidak menyenangi perang. Kalau mereka berperang itu hanya melaksanakan perintah Allah demi menegakkan perdamaian.
Al-Nasafi menyimpulkan bahwa menyampaikan salam kepada sesama muslim hukumnya sunat, sedangan menjawabnya adalah wajib, karena diperintahkan langsung oleh al-Qur`an. Namun menurut beliau kewajiban menjawab salam itu ada pengecualiannya. Tidak ada kewajiban manjawab salam, apabila kita sedang (1) khuthbah, (2) membaca al-Qur`an secara jahar, (3) meriwayatkan hadits, (4) majelis ilmu, (5) mengumandangkan adzan, (6) menggemakan iqamah.[3] Al-Baydlawi menambahkan (7) ketika di kamar kecil, (8) sedang buang air.[4]
2. إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًاSesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.
Allah SWT memperhitungkan segala amal manusia, apakah yang buruk ataupun yang baik. Termasuk pula di dalamnya siapa yang pandai membalas budi bagi sesama manusia. Seperti dikemukakan di atas, urusan salam bukan hanya terbatas pada ritual, tapi juga prinsip kehidupan sosial. Siapa manusia yang pandai menjalin hubungan baik sesamanya, maka akan mendapat kebaikan pula. Seberapa nilai kebajikan yang manusia kerjakan, akan diperhitungkan secara jeli dan dibalas di akhirat secara adil. Rasul SAW bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Kalian tidak akan amsuk surga kecuali beriman. Tidak termasuk beriman kecuali saling sayang menyayangi. Inginkah aku tunjukkan pada kalian sesuatua yang bila kalian kerjakan dapat mempererat kasih sayang? Sebarkan salam di antara kalian. Hr. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibn Majah,.[5]
Dengan demikian kesempurnaan iman sangat dipengaruhi oleh jalinan kasih sayang yang diawali salam perdamaian.
3. اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya.
Setelah ayat sebelumnya memerintah memberikan balasan salam pernghormatan dengan cara yang lebih baik, kini Allah SWT mengingatkan ke-Esaan-Nya yang akan mengumpulkan manusia di hari kiamah. Kaitan kedua ayat tersebut mengisyaratkan bahwa hubungan baik sesama manusia mesti berlandaskan tauhid, dan persiapan menghadapi hari akhir. Hari akhir yang tidak diragukan lagi bakal tiba, merupakan hari perhitungan dan pembalasan selama hidup di dunia. Sedangkan materi persidangan bukan hanya yang berkaitan dengan hak dan kewajiban pada Allah SWT, tapi juga yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia. Rasul SAW bersabda:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ Ibadah hamba yang paling pertama dihisab adalah shalat, dan yang paling pertama diadili sesame manusia adalah urusan darah. Hr Ibn Majah (207-275H), al-Nasa`iy (215-303H).[6]
Berdasar hadits ini, pada hari kiamat ada dua permasalahan yang paling pertama disidangkan di hari kiamat yang mesti dipertangung jawabkan oleh manusia; (1) yang berkaitan dengan al-Khaliq diawali dari urusan shalat. (2) yang berkaitan dengan sesame makhluq diawali dari urusan hak darah sesame manusia.

4.وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا  Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah.
Dengan nada bertanya ayat ini menandaskan bahwa tidak ada yang paling benar perkataannya selain Allah SWT. Menurut istilah al-Nasafi  pertanyaan semacam ini berfungsi استفهام بمعنى النفي kalimat Tanya ang berma’na menyangkal atau menafikan sehingga artinya لا أحد أصدق منه في إخباره ووعده ووعيده  tidak ada satu pun perkataannya yang  lebih benar dari Allah SWT, baik dalam menyampaikan berita, berjani, atau pun  mengancam. Ini sebagai penegasan yang berfungsi kecaman bagi orang yang mendustakan firman Allah SWT. Tidak sepantasnya manusia lebih mempercayai berita bohong yang bersumber dari dongeng, di banding berita al-Qur`an.

D. Beberapa Ibrah
1. Al-Islam adalah agama damai dan muslim mencintai perdamaian. Menyebarluaskan salam kepada sesama muslim, merupakan lambang perdamaian.
2. Membalas kebaikan orang lain, selayaknya dengan yang lebih baik, atau minimal yang setimpal.
3. menyampaikan salam sangat dianjurkan, sedangkan menjawabnya diwajibkan, kecuali dalam hal-hal yang tidak dimungkinkan.
4. Kesalihan muslim bukan hanya ditentukan oleh baiknya ritual, tapi juga baik atau tidaknya dalam kehidupan sosial.
5. Dasar persaudaraan dalam Islam adalah tauhid. Oleh karena itu tidak ada perkumpulan atau pergaulan yang bertentangan dengan prinsip tauhid.
6. Setiap manusia, di hari kiamat, akan dimintai tanggung jawab tentang amalnya selama di dunia. Yang dipertanggung jawabkan di akhirat, bukan hanya yang bersifat ritual ibadah pada Allah SWT, tapi juga yang bersifat sosial sesama manusia.
7. Tidak ada ucapan yang paling benar, selain firman Allah SWT serbagaimana apa yang diajarkan oelh Rasul-Nya.


[1] Tafsir al-Nasafi, I h.237
[2] Zad al-Masir, I h.237
[3] Tafsir al-Nasafi, I h.238
[4] Tafsir al-Baydlawi, II h.229
[5] Musnad Ahmad, 1355, Shahih Muslim, no.81, Sunan Abi dawud, no.4519, Sunan al-Tirmidzi, 2434, Sunan Ibn Majah, no.67, Sunan al-Nasa`iy,
[6] Sunan Ibn Majah, hdits no.2605, Sunan al-Nasa`iy, hadits no.3926
.

Ajaran Islam Dalam Menegakkan Perdamaian dan Kerukunan Agama

Ajaran Islam Dalam Menegakkan Perdamaian dan Kerukunan Agama

A. Menghormati Agama Lain dan Para Pendirinya

Saya telah membahas sikap Islam kepada agama-agama lain di dunia ini pada bagian permulaan. Disini saya rasa akan cukup untuk mengutip satu saja ayat Al-Qur'an yang mewajibkan seorang Muslim untuk beriman kepada kebenaran dan menghormati semua nabi atau rasul, atau para pendiri agama-agama lain. Allah taala berfirman:

 "Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya." (Q.S 4:153)

B. Persamaan Semua Utusan Allah

Menurut Al-qur'an semua nabi adalah sama. Hal ini penting sekali untuk tegaknya kedamaian antar agama. Sejauh hubungannya dengan pendakwaan, para nabi harus diperlakukan sama. Para tempat lain Kitab Suci Al-Qur'an memang mengakui bahwa ada perbedaan derajat dari para nabi, tetapi semuanya memiliki keabsahan yang sama dari Tuhan. Allah taala berfirman dalam Al-Qur'an:

 "Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian [dari] mereka atas sebagian yang lain. Diantara mereka ada yang Allah berkata-kata dengan dia dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat." (Q.S 2:254)

Ayat itu harus dipahami dalam hubungan ini. Dengan menghormati persamaan nabi-nabi sejauh hubungan dengan pendakwaan mereka, peristiwa-peristiwa berikut akan memperjelas hal itu. Salah seorang sahabat Nabi saw menyatakan bahwa Rasulullah saw adalah yang terbaik dari semua nabi. Hal ini terjadi dalam dua kesempatan. Pada suatu peristiwa ketika sedang berbahas dengan orang Yahudi, sahabat itu menekankan bahwa Nabi Muhammad saw lebih tinggi derajatnya dari pada Nabi Musa as. Ketika masalah itu disampaikan kepada Nabi Muhammad saw beliau menjawab bahwa beliau tidak seharusnya dinyatakan lebih tinggi dari Nabi Musa as. Pada waktu lain beliau bersabda bahwa beliau tidak seharusnya dinyatakan lebih tinggi dari Nabi Yunus as, bin Matta. 

Prinsip mendasar yang harus diingat adalah bahwa Tuhanlah yang memutuskan dan menyatakan dengan cara apa seorang nabi lebih Dia cintai daripada lainnya. Para pengikut nabi-nabi itu tidak diizinkan untuk memulai pertengkaran atau perkelahian mengenai siapa nabi yang lebih baik. 

C. Keselamatan Tak Dapat Dimonopoli

Ini merupakan pernyataan lain yang indah dari Al-Qur'an Suci yang menjadi unsur sangat penting untuk menegakkan kedamaian diantara agama-agama. Allah taala berfirman dalam Al-Qur'an:

 "Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada [agama] Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus." (22:68)
 "Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja [diantara mereka] yang benar-benar beriman pada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula]mereka bersedih hati." (5:70)
 "Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati." (2:113)
 Al-Qur'an Suci tidak mengizinkan kaum Muslimin dengan tak pandang bulu mencela mereka yang berasal dari agama-agama lain mengenai peluang-peluang untuk keselamatan mereka. Diajarkan bahwa Islam mengajarkan kalau semua orang bukan Muslim ditakdirkan masuk neraka tetapi sebenarnya adalah bahwa mereka semuanya yang mengaku beriman apakah mereka Yahudi, Nasrani, Shabiin atau dalam hal ini penganut suatu agama lain - jika mereka beriman kepada Tuhan dan hari kemudian dengan ikhlas dan jujur dan mereka beramal saleh - yang merupakan intisari Islam - tak ada ketakutan akan menimpa mereka dan tidak pula mereka berduka cita (2:63)

Disini saya ingin memperjelas lebih lanjut kata 'Shabi (Shabiin). Kata ini adalah suatu istilah yang digunakan oleh bangsa Arab mengacu pada pengikut-pengikut semua agama bukan Arab dan bukan semitik (diluar Timur Tengah) yang mempunyai kitab-kitab wahyu mereka sendiri. Dengan demikian para pengikut seluruh agama yang berdasarkan wahyu Ilahi telah diberikan jaminan bahwa, dengan syarat mereka tidak secara sengaja gagal untuk mengenali cahaya suatu agama baru dan berpegang teguh dengan jujur dan benar pada nilai-nilai agama nenek moyang mereka, mereka tidak seharusnya takut kepada Tuhan dan tidak akan ditolak [untuk dapat] keselamatan.

Sikap Berpikiran Luas Terhadap Penganut Agama Lain

Dinyatakan dalam kata-kata yang jelas dalam Al-Qur'an Suci bahwa bukan hanya kaum Muslimin yang berdiri teguh dengan kebenaran dan memperingatkan serta memberikan keadilan dengan benar tetapi ada juga orang-orang dari penganut agama-agama lain yang berbuat sama. Merujuk ada seluruh agama di dunia, pada umumnya, Al-Qur'an menyatakan:

 "Dan diantara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak dan dengan yang hak itu [pula] mereka menjalankan keadilan." (7:182)

Inilah sikap yang seluruh agama di dunia hari ini harus menerapkan untuk meningkatkan nilai hubungan dengan agama-agama lain. Kedamaian agama dan kerukunan masyakat tidak dapat diperoleh tanpa menanamkan keluasan berpikir seperti itu, dan sikap-sikap pemahaman manusiawi terhadap orang-orang dari agama lain. 

D. Perlindungan Tempat-Tempat Ibadah Agama Lain

Allah berfirman dalam Al-Qur'an Suci:

 "Dan sekiranya Allah tiada menolak [keganasan] sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah." (22:41)

Al-Qur'an dalam menyajikan ayat itu yang telah memberikan hak pada kaum Muslimin untuk membela diri, bahkan dengan kehidupan mereka maka seluruh tempat ibadah: gereja, sinagog, kuil, biara dan lain-lain, dan jika orang Muslim dibunuh dalam upaya mempertahankan suatu tempat ibadah yang demikian, maka menurut Islam orang Muslim demikian akan diperlakukan sebagai syahid. 

E. Jangan Mencaci Berhala-Berhala

Walaupun Al-Qur'an dengan kuat melarang penyembahan berhala, lihat betapa Tuhan mengajarkan kita cara-cara dan sikap hormat pada kehormatan dan perasaan orang lain. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

 "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." (6:109)

Ayat itu menunjukkan jika kaum Muslimin tidak mengikuti ajaran ini, maka diri mereka sendiri akan bertanggung jawab jika Tuhan mereka dicaci maki dan selanjutnya mengganggu kerukunan komunal suatu masyarakat. 

F. Tidak Ada Paksaan Dalam Urusan Agama

Kitab Suci Al-Qur'an dengan jelas memberitahu bahwa tak ada paksaan yang dapat digunakan dalam menyebarkan pesan Islam. Allah taala berfirman dalam Al-Qur'an:

 "Tak ada paksaan dalam agama." (2:257)
 "Barangsiapa menghendaki, hendaklah dia beriman dan barangsiapa menghendaki, biarlah ia kafir." (18:30).
 "Untukmu agamamu dan untukku agamaku." (109:7)

G. Menghormati Para Pemimpin Kaum Lain yang Bukan Nabi

Islam memerintahkan kaum Muslimin untuk menghormati para pemimpin kaum lain yang bukan nabi, para pemimpin agama dan non-agama. 

Nabi Muhammad saw bersabda:

 "Apabila seorang yang dihormati di kalangan kaumnya mengunjungi kalian, kalian juga harus menyambutkan dengan penghormatan."

Dan mengenai hormat kepada para pemimpin atau orang-orang awam yang sudah meninggal, Nabi Muhammad saw bersabda:

 "Ceritakanlah tentang orang-orang mati yang baik-baik saja dan hindari dari berbicara yang buruk-buruk dan jangan membicarakan kelemahan-kelemahan orang yang sudah mati, sebab akan melukai perasaan orang-orang yang masih hidup."

H. Persamaan Seluruh Manusia

Al-Qur'an dengan jelas meletakkan prinsip persamaan seluruh umat manusia. Allah taala berfirman dalam Al-Qur'an:

 "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lahi Maha Mengenal." (49:14)

Ayat itu menunjukkan bahwa seluruh umat manusia adalah sama, sebab setiap orang tanpa kecuali diciptakan dengan cara yang sama, yaitu dari laki-laki dan perempuan, maka tak seorang manusia pun dapat menyebut dirinya lebih mulia daripada orang lain dalam hal apapun. Satu-satunya tanda kemuliaan di sisi Allah adalah takwa.

I. Menyebarkan Perdamaian dan Niat Baik

Allah taala berfirman Al-Qur'an:

 "Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung." (3:105)

Nabi Muhammad saw bersabda:

 "Sedekah terbaik adalah meningkatkan kebajikan di kalangan manusia."

J. Cinta Kasih Kepada Manusia.

Allah taala berfirman di dalam Al-Qur'an:

 "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. dan berbuat baiklah kepada kedua ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan yang jauh, temat sejawat dan hambasahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (4:37)

Ayat tersebut diatas mengarahkan seorang Muslim untuk mengamalkan cinta kasihnya sedemikian rupa sehingga meliputi seluruh manusia dimulai dari orang tua, orang-orang yang terdekat, sampai orang-orang asing yang paling jauh. 

Islam mengajarkan bahwa Kaum Muslimin tidak seharusnya bersahabat atau berkasih sayang dengan orang-orang bukan Muslim. Hal ini merupakan suatu kesalahpahaman lantaran ayat-ayat Al-Qur'an dan sabda-sabda Nabi Muhammad saw berikut ini akan memperjelas permasalahan ini. 

Allah berfirman dalam Al-Qur'an mengenai hubungan dengan orang bukan Muslim:

 "Allah tidak melarang kamu untuk baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak [pula] menghalau kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berlaku adil." (60:9)
 "Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kami karena agamamu dan menghalau kamu dari negerimu dan membantu [orang lain] untuk menghalaumu. Dan barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (60:10)

Nabi Muhammad saw bersabda:

1. Seluruh makhluk Tuhan adalah keluarga-Nya, dan orang yang paling dicintai Tuhan adalah dia yang berbuat paling baik kepada makhluk-makhluk Tuhan. 

2. Allah tidak akan mengasihani mereka yang tidak mengasihani manusia.

3. Allah menganugerahkan kasih sayang-Nya hanya kepada hamba-hamba-Nya yang menyayangi sesamanya.

4. Seorang Muslim adalah dia yang kata-katanya dan perbuatannya tak menyakiti (merugikan) orang lain. 

5. Seseorang yang melihat orang lain sedang hendak dibunuh dan dia tak turun tangan menolong atau membuat suatu usaha menyelamatkan ada di bawah laknat Tuhan. 

Maka Islam memberikan suatu daftar apa-apa yang harus dan tidak harus dilakukan yang sangat mudah dipahami yang kasihnya kerukunan masyarakat pada taraf tertinggi dapat ditegakkan. 

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip dua peristiwa dari kehidupan Nabi Muhammad saw yang menegakkan keunggulan standar toleransi dan penghormatan dalam masalah-masalah agama dan nilai-nilai manusiawi. 

Seorang utusan dari golongan Kristen Najran mengunjungi beliau saw di Madinah untuk bertukar pikiran mengenai masalah-masalah agama. Termasuk pemuka-pemuka gereja. Pembahasan berlangsung di dalam Masjid dan berlanjut hingga beberapa jam. Pada suatu kesempatan pemimpin perutusan Kristen itu meminta izin untuk keluar dari Masjid dan melakukan ibadah keagamaan mereka di suatu tempat yang mereka kehendaki. Nabi Suci Muhammad saw bersabda bahwa tak perlu mereka untuk keluar dari masjid yang merupakan tempat beribadah kepada Tuhan, dan mereka dapat melaksanakan ibadah mereka di dalamnya. Betapa suatu sipak berpikir yang luas.

Suatu ketika Nabi Muhammad saw sedang duduk bersama para sahabat. Suatu arak-arakan jenazah berlalu. Nabi Suci saw berdiri. Melihat beliau, para sahabat juga berdiri. SAlah seorang sahabat mengingatkan: "Ya Rasul Allah, itu jenazah seorang Yahudi." 

Nabi Muhammad saw menjawah: "Bukankah dia manusia?" Dan lebih lanjut beliau bersabda: "kematian adalah suatu perkara yang menyedihkan dan dahsyat, sebab itu, apabila kamu melihat iring-iringan jenazah berlalu, kamu seharusnya berdiri sebagai suatu hadiah penghormatan."

Betapa suatu contoh rasa dan nilai kemanusiaan yang mengagumkan. Semoga Allah memberikan kita semua kemampuan untuk mengikuti contoh teladan Nabi Muhammad saw. 

Implementasi Trilogi Nusa Putra

 Assalamu'alaikum Wr. Wb. Haiii... perkenalkan nama saya Raida Namira Aulia, salah satu mahasiswi program studi Pendidikan Guru Sekolah ...